Wednesday, November 21, 2012

Ini Tentang Kita, Waktu !

Bahwa aku berjalan bersisian dengan waktu. Menikmati irama langkahnya. Menyesuaikan ritmenya. Menghargai kemana ia membawaku. Memperlakukannya sebaik mungkin.

Sepertinya tak mudah. Aku sedang berusaha mencoba. Sedang berusaha menyesuaikan semuanya.

Waktu. Kau yang bahkan aku tak tahu sampai kapan kita bisa bersama. Kau yang Dia berikan. Ada batasnya.

Maka sebelum kita terpisah. Sebelum kau dan aku tak bisa bersama. Ijinkan aku bersahabat denganmu. Sebelum 'jatahku' habis. Sebelum semuanya hanya jadi sesal nantinya.

Tentang diriku. Tentang bersyukur. Tentang perubahan. Tentang berusaha lebih. Tentang rahasiaNya. Ah, tentang semua.

Sekarang, tentangmu, tentangku.

Tentang kita, waktu ! :)



Aku, 22 tahun hampir 23. Sebulan terakhir sedang mempelajari karakter dari nama-nama baru. Sedang beradaptasi dengan ritme hidup yang baru. Juga. Menyenangkan....


Friday, October 26, 2012

Dia, Perempuan Itu Mulai Lagi :(

Dua tahun lalu, eh tiga mungkin. Saya pernah bertengkar dengan pacar salah satu sahabat saya. Bukan bertengkar live sih, status war (waktu itu eyke belum maen twitter). Karena dia ada di seberang pulau sana, dan pacarnya ada di samping saya (maksudnya kami se-kelas dan bersahabat). Dia cemburu berat karena saya sering up-load foto yang ada penampakan pacarnya. Padahal itu foto rame-rame ya. Malah justru dia mengira saya suka sama pacarnya. Waduuh.

Dia mau saya menghapus semua foto yang ada pacarnya. Saya jelas ga mau. Kan kenang-kenangan rame-rame. Dia ga terima, saya apalagi. Maka bertengkarlah kami. Via sms-lah, mesej di fb lah, status lah. Saya yang waktu itu masih sangat-sangat belum dewasa, makin dia minta untuk berhenti up-lod foto, makin jadi pula kelakuan saya *senyum iblis*. Dia me-remove akun saya (padahal dia yang add loh) hhehe. Sempat maaf-maafan, dia add lagi, bertengkar lagi, remove lagi. Hanya gara-gara foto.

Ga ada yang salah dengan foto-fotonya menurut saya. Toh kita rame-rame. Dan ga ada pose aneh-aneh. Tapi mungkin karena Jarak yang membuatnya ga bisa ketemu dengan pacarnya membuat dia uring-uringan sendiri. Parahnya juga saya ga mau memahami posisi dia. Saya kesal tiap ada komentar ga jelas berbau sinis nya di status atau foto-foto dalam akun saya. Maka, saya memilih untuk ‘block’ akunnya. AMAN. Eh saya diblock dari akun pacarnya. Yah ga apalah, toh di kampus masih bisa ketemu. :p

Nah, dari terakhir kali kita block2an, akun saya bersih dari status-status perang. Mungkin memang kita sama-sama belum dewasa. Jadi lah, nda ada titik temu, selain ber’musuh’an. Terus, hubungan saya dengan sahabat? Baik. sangat baik. Hubungannya dengan pacarnya pun juga tetap baik.

Sebagai muslim, saya tau saya salah. Tapi susah rasanya untuk menemukan 'jalan damai'. Alhasil waktu lah yang membuat rasa kesal saya hilang pelan-pelan. Saya juga udah mulai lupa dengan dia. Alhamdulillah. 

Sampai sebelum sore ini, saya pikir permusuhan kemarin sudah selesai. Tapi, ternyata....

Huuu... Dia, perempuan itu, mulai lagi. Sms ucapan ied adha yang saya kirim ke nomor hp sahabat saya dibalas kasar sama dia :'(  

 "Oh, I c. It's not u,kar. Just b calm n smart, pleasee ! It's holy day. i don wanna make nu problem !
 thanx God! now, i'm mature enough" (balasan sms saya untuk sms kasarnya)


Saya sedih waktu baca sms nya. Saya tak punya niat untuk 'cari masalah' lagi. Saya hanya mau  kirim ucapan ied.adha untuk  pacarnya, sama seperti ke sahabat saya yang lain. 

Tapi juga saya bahagia, karena dalam 2 tahun-an setelah pertengkaran dulu saya merasa sangat jauh lebih dewasa dan tidak lagi norak. 
Alhamdulillah.

Saturday, October 20, 2012

Semoga (bahagia ini) Selamanya

Bismillahirrahmanirrahim.


Bahagia itu ketika mama pelan-pelan mengajak saya bicara dari hati ke hati sambil menyisir pelan rambut saya. Padahal saya telah marah-marah, manyun dengan bibir dan dahi yang keritingnya tak terhingga. 

Bahagia itu ketika mama, papa, dan nenek berkata "hati-hati nak" pas lagi pamitan sebelum saya berangkat ngajar.

Bahagia itu ketika adik saya berkata, "kalo pulang jangan nda bawa apa-apa!"

Bahagia itu ketika papa bertanya, "Bagaimana tadi? Lancar ngajarmu?".

Bahagia itu ketika pulang ke rumah dan mendapati salah satu buku di rak saya berpindah ke tangan mama, dan melihatnya serius membaca.

Bahagia itu ketika setelah mama, papa lah yang  'tertular' ingin membaca buku yang sama.

Bahagia itu ketika melihat papa dengan kaca matanya lagi asik membaca dan ada mama di sampingnya.

Bahagia itu  seperti malam saya hari ini. Juga malam-malam sebelumnya.Ah, masih banyak sebenarnya. :D

Untuk saya, bahagia itu sederhana. Tak selalu harus mewah. Bahagia saya itu mereka :)

Ya Allah, terima kasih untuk semuanya, untuk keluarga sederhana yang ada bahagia di dalamnya, kupinta pertemukan kembali kami kelak di jannah.