Monday, June 30, 2014

I Can't Keep Calm


Once in my life. 
1st of Ramadhan 1435 H is in d same day with My 24th birthday. Insha Allah, berberkah melimpah. Terima kasih untuk doa-doa yang sampai ke wall facebook, bbm, sms, dan telinga saya. Nothing I could say, doa terbaikpun untuk kalian, teman-teman, saudara saya. 
Harusnya di-post kemaren yak ;)

Wednesday, January 15, 2014

Mbolang ke Kebun Raya Purwodadi

Bismillah.

Dalam postingan-postinganku, akan kalian temui di mana aku memakai ‘aku’ seperti saat ini, juga ‘saya’ dalam postingan sebelum ini. Tidak konsisten. Iya memang. Aku mengikuti suasana hatiku. :D

Liburan semester satu ku kemaren, aku memutuskan untuk tidak pulang ke Palu. Padahal liburnya dua minggu lebih. Hiks, sabar yuni. Pertimbangan uang tiket pesawat Surabaya-Palu yang meluuooonjak karena berpapasan dengan libur panjang akhir tahun. Juga karena baru lima bulan aku tinggalkan Palu, belum terlalu lama. Belum dramatis untuk pulang melepas rindu dengan ayah bunda *tsaaaahh. Mending kutabung uangku juga rinduku.

Dan untungnya dari dua puluh mahasiswa di kelasku, ada dua mahasiswi memilih hal yang sama denganku. Firda – anak Lombok, Ain- Anak Padang, dan belakangan aku tahu kalau Wiren- Anak Lombok (juga) stay di Malang tak pulang kampuang.

Firda dan aku  punya rencana untuk Mbolang selama masa penantian masuk kuliah lagi. Untuk hal jalan-jalan kita hampir sama, tapi sepertinya kadar ‘hobi jalan’ ku sedikit di atasnya.  Ain diajak, dan dia mau. Yes! Kita pergi bertiga ! Tujuan kami adalah Kebun Raya Purwodadi.

dok.pribadi

Kebun raya Purwodadi. Lokasinya di Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia. Kebun penelitian besar yang juga jadi tempat wisata ini luasnya kurang lebih 85 hektar dan punya 10.000 jenis pohon dan tumbuhan.  Kenapa di sini? Sebenarnya kami mau ke pantai, tapi Pantai-pantai di Malang, Jauhhh ciinn. Transportasi umum kesana juga susah. Mau ke Jogja, Bandung, Bogor, Jakarta, Si Firda lagi nabung demi sesuatu. Gak seru kan ya sendirian dan Gak mungkin juga saya pergi sendiri. Suami istri nun jauh di Palu sana tak akan memberikan ijin anaknya alone mbolang too far.  Ya sudah. Pilihan jatuh ke Kebun Raya Purwodadi ini. Setidaknya di luar Malang lah ya. Gimana mo jadi traveler iniihh??

Waktu itu Kamis, Kita janjian  di jalan depan kos-anku, jam tujuh dan akhirnya ngaret satu jam. Jadi jalurnya adalah, kita ke terminal Arjosari dulu (naek angkot). Dari terminal naek bus ke Surabaya, karena Kebun Raya ini lokasinya di jalan poros Malang-Surabaya.

Baru sekali itu aku naek angkot dari kos-an ke terminal Arjosari, jauuuh ciiin :D. Sepuluh-lima belas menitan sepertinya. Sampai di Arjosari, kami disambut kernet-kernet dan para lelaki-lelaki yang ‘menarik’ penumpang dengan teriakan-teriakannya yang tak mau kalah satu sama lain.

“ Pak, ke Kebun Raya Purwodadi berapa?” tanyaku ke seorang yang paling dekat dengan tempatku. Setelah kami bertiga hanya senyum-senyum bingung.

“ Dua puluh lima ribu mbak ” jawabnya langsung.
            Aaaapeee Lu Kateeee Paaaaakk??  Sambil pake mata melotot. Ke Surabaya aja gak nyampe segitu. Aku protes sewoot, dalam hati pasti! Hihihii.  Kalo aku ngomong di luar hati, kayanya langsung dinaikkin ke atas atap bus deh.

“ Kemahalan Pak! Masa’ segitu?” Kami bertiga protes.
            Bapak itu balik nanya ke temannya.  “ Lima belas ribu deh mbak!”
            Kami setuju. Naek ke bus. Dan bismillah. Duduk di bus, foto-foto dulu bertiga. Ganti DP BB. Teman di Bengkulu nanya kemana. Aku bilang ke Jogja. Dia percaya. Bwahahaha.

Nah, ada satu kejadian lucu di bus. Sepuluh menit-an jalan, ada mas-mas dalam bus bagi-bagiin stiker Arema. Satu. Dua. Dibagiin Cuma-Cuma. Aku yang duduk berdua sama Firda seneng. Lumayan lah. Gratisan. Buat kenang-kenangan. Eh pas udah mo nyimpan tu stiker ke dompet si Mas baik tadi itu balik dari belakang bus (kami duduk di baris depan) sambil cuap-cuap ada ‘ikhlas-ikhlasnya’ gitu plus bawa gelas air mineral kosong. Tuuinngg-tuuuinggg. Ternyata kagak gratisss ma meeeeenn !! hahahahaa. Aku bayar aja seribu. Tau gitu tadi mintanya empat. Kan bayarnya ikhlas-ly.

Akhirnya gak nyampe setengah jam, bus udah dekat Kebun Raya. Bayangin ya, aku sempat ketiduran.

“ Mbak-mbak, bangun. Kebun Raya, Kebun Raya” Kata kernetnya.
            Aku bangun dengan kesadaran yang 100 % tapi kondisi penyesuaian yang masih 80 %. Udah bangun cepat-cepat, berdiri dari kursi jalan sempoyongan ke pintu belakang bus. Eeeh, masih ada tiga menit-an berdiri kaya kernet , baru nyampe bus nya di depan gerbang Kebun Raya Purwodadi. Kampr*t.

“ Thank you, mas ! “ Aku turun cepat dan yeaah Gerbang besar di depan mata !

            Pas masuk ke dalam , beli karcis dulu. Only enam ribu rupiah per orang dewasa. Waahh hijau di mana-mana. Kami memilih jalan kaki. Daripada naik kereta-keretaan. Dan belakangan kami tahu, kalau ada penyewaan sepeda. Hadewh.


Kembalilah ke alam, dan akan kau dapati nyaman.  Oh iya, sebelum ke sini, aku sempat bertanya tentang kebun raya ini via bbm ke temanku yang asli Pasuruan. Katanya, “ Nanti kalo udah nyampe di sana, banyak-banyak istighfar ya!”
            “ Lah, memangnya ada apa, mas?” tanyaku bingung.

“ Banyak yang pacaran. Duduk dekat2an. Hahahahaha” jawabnya.
            Ingin ku balas, ya iyalah kalo jauh-jauhan itu namanya lagi ujian finalnya Pak Ali Sauqah.

Dan yah, memang iya! Sepanjang jalan gak pernah gak kami dapati pasangan-pasangan yang berdua-duaan di gazebo2 kecil, tapi untungnya masih dalam ambang batas normal dan wajar tapi bikin risih juga sih. #jomblo #jomblo
            Terlalu banyak aku bercerita, mari kau lihatlah foto-foto Kebun Raya ini beserta pose kami :P
 




Sejauh mata memandang yang akan kalian lihat adalah pohon-pohon besar. Ada tiga pilihan untuk mengelilingi kebun raya ini, naik sepeda yang bisa kalian sewa, naik mobil sendiri dan seperti kami bertiga, jalan pakai kaki sendiri :D.

Hari itu panas terik, tapi tetap sejuuuukkk. Kami berjalan riang kesana kemari. Kiri kanan pepohonan dan beberapa pasangan. Hihihi. Padahal banyak nyamuk loh ya, kok mereka tahan duduk lama-lama :p Iya, di beberapa titik yang kami singgahi untuk foto-foto, nyamuk nya buanyak. eiits, waktu itu ada pasangan yang lagi foto pre-wedding juga. Ada keluarga kecil dengan dua anak-anaknya yang lucu foto-foto  dengan background pohon-pohon guedee.




uni - ain



Aku suka  tempat ini. Karena kebun raya di pinggir jalan raya seperti ini tak ada di kota asalku. Aku suka pohon-pohon besar dan udara sejuk.
            Ternyata capek juga jalan kaki. Besok-besok kalo kesini mending naik sepeda. Puas foto-foto, keliling-keliling, kami akhirnya pulang. Kami bertiga berpikir untuk nyetop bus lagi. Ets tapi pas bus mini lewat, dan bapak di dalamnya teriak-teriak, “Malang Malaaang Malaaang” dan kami memilih itu.
            “ Malang, berapa pak? “ Tanyaku.
            “Maunya berapa?” tanyanya balik.
            “ Lima ribu !” Jawabku cepat.
            “Yo wess, ayooo! Kata si bapak kernet.
            Mobilnya masih kosong, nyaman pula. Kami duduk di jok paling belakang.
            Bayangkan , tadi pas pergi kami bayar tiga kali lipatnya. Padahal lima ribu saja tarif normal Malang-Kebun Raya Purwodadi.  Tarif ini aku tahu pas lagi beli minum di samping loket masuk Kebun Raya. Yaaah, kami “ditipu-tipu” , muka kami yang masih polos dan orang baru cepat ketahuan di terminal pagi tadi.
           
 Well, pengalaman pertama begitu berharga. Sampai bertemu kembali Kebun Raya Purwodadi. :) 



Sunday, January 05, 2014

Semester Satu Ku.

Alhamdulillah.

Semester satu sudah selesai  kurang lebih dari seminggu yang lalu. Nilai-nilai juga sudah keluar. KRS pun sudah selesai diproses. (hampir) Lima bulan yang cepat berlalu.

Well saya masih ingat pas jadi maba. Awaaal banget.  Kuliah pra-pasca saya di kelas sebelumnya. Ya, sebelumnya. Pelan-pelan mengenal nama-nama baru. Lingkungan baru. Pra-pasca, yang dijadwalkan seminggu seperti kelas adaptasi, refresh mata kuliah dasar, flashback ke materi S1, waktu itu berjalan sangat baik. Kelas kami rame, nyaman juga. Saya sangat 
bersyukur bisa sekelas dengan orang-orang yang menyenangkan.  Satu minggu tapi saya 
merasa sudah kenal lama dengan beberapa dari mereka.

Dan minggu kedua kuliah perdana dimulai.  Karena jadwal kuliah kelas ini Selasa, Rabu, dan Jumat., maka Senin pertama itu saya nyantai di kos-an. Betapa senin jadi sangat menyenangkan selama hidup saya. Free, ciiin. Besoknya, sebelum ke kampus, Diska, teman sekelas saya mengirim bbm, yang bilang kalau saya dipindahkan ke kelas lain!!!

Whaaatttt ?!! Apa salah saya coba? Nama saya gak lagi ada di daftar mahasiswa kelas C, karena telah bertransmigrasi ke kelas D tanpa ada pemberitahuan dari pihak pengelola Mata Kuliah. Buru-buru saya ke kampus, mencari kejelasan. Sampai di kampus ketemu Diska, dan she asked me to have clarification from administration staff. Dan yaah selamat yuni ! Kamu memang beneran pindah !!! Saya sedih seketika,

Nama saya tak lagi di kelas C. Dan ternyata saya tak sendiri. Ada empat wanita lainnya yang juga senasib sama saya. Lima nama dari abjad terbawah ditransfer ke kelas D yang memang penghuninya sedikit. Galaaaau Ma meeeeennn !! Sudah nyaman di kelas C, ehh dimusnahkan dari situ. Parahnya lagi jadwal kelas D itu, Senin, Selasa sama Rabu. It means ,senin,  Saya gak masuk kelas seharian full. Dan hari itu selasa, kelas nya kelas baru saya sudah selesai. FIX dua hari saya terhitung bolos ! Awal kuliah yang melemaskan!

Saya sendirian keliling nyari anak kelas D yang mungkin saya kenal dan kenal saya. Waktu itu ketemu Ain ( dan kami masing-masing belum kenal )  J Dan untungnya, baru satu dosen yang masuk ke kelas mereka, eh kelas kitaa dink. Senior yang waktu itu sama-sama Ain bilang kalo kita bisa bermohon ke ketua jurusan untuk tetap dan gak pindah dari kelas lama. Temannya dulu ada yang nasibnya sama kaya saya, dan teteup gak pindah. Sempat kepikiran gitu, mo menghadap Ibu ketua jurusan, tapi alasannya gak mau pindah apa coba ??? Masa iya, “Bu, aku terlanjur cinta sama kelas itu, gak bisa belajar kalo di kelas lain!” Jiaaaahh,  lu anak TK ya? Gak bisa belajar kalo gak ada mama X_X. Bismillah, ini sudah takdir saya. Mama sama teman-teman saya bilangnya “ Justru bagus, Yun, teman mu bakalan nambah kan?” Well. That is totally true.

Hidup baru saya dimulai. Dengan teman-teman sekelas yang baru. Dengan dua orang lelaki bule dari Uzbekistan. Semangat saya naik turun, tidak seirama dengan tugas yang naik terussss. Beradaptasi dengan ritme kuliah yang beda jauh dengan S1 saya dulu. Begadang sampe pagi gara-gara dikejar deadline tugas. Pernah saya maju presentasi tanpa persiapan yang mantap, dan kena ‘doorr’ dari dosennya. Doing my mid-test without mastering the lesson.  Saya merasa sangat-sangat bodoh. Dan mata kuliah yang dua ini lah nilai saya yang gak A, tapi memuaskan, karena memang sesuai dengan usaha saya yang gak maksimal. Wadawh, semester satu saya belum mulus. Untungnya kelas baru ini juga sangat-sangat nyaman.  Gak ada hari tanpa ketawa.  Alhamdulillah.

Semester dua di depan mata. Yang ini harus lebih rajin baca, rajin kerjain tugas, rajin gak nunda-nunda! Semester satu ditutup sama gathering kelas D, nonton Van Der Wijck bareng Nyssa, Dyah. Ke Kebun Raya Purwodadi sama Ain dan Firda. Dan nilai-nilai mata kuliah yang di atas ekspektasi saya. Thanks God.

Photo by Novika. I am a Mango ;)

Here We Are 

Bersama Pak Suharmanto

Terima Kasih, Semester Satu :)

Tuesday, December 03, 2013

Ini Yang Terakhir


Dan Aku pun memilih untuk pergi menjemput cerita-cerita baru daripada terus-terusan mengingat bagaimana kita pernah sama-sama menulis cerita dan menunggu janjimu untuk kembali. Aku lebih menyayangi waktuku, dibandingkan dirimu. Serius. Ini yang terakhir kau bisa membaca cerita di mataku juga di sini. Karena aku akan betul-betul  pergi. Menghapus janji. 

Tak akan kau dapati bibir yang senyum nya tulus untukmu, yang berucap doa di tengadah tangan usai sujudnya. Juga tak akan ada yang mata yang menyimpan matamu di dalamnya, menunggumu hadir di depannya, menangisi apa yang sebetulnya tak layak dia tangisi.  Tak ada hati yang terus meminta hanya ditempati nama mu. Iya, tak lagi akan ada.

Jika kau begitu pintar melupakan semua, aku pun tak bodoh untuk belajar kalau tulusku, terlalu sia-sia untuk kubagi hanya denganmu.



Wednesday, November 27, 2013

Tiga Bulan Dua Minggu. Cerita

Bismillahirrahmanirrahim

Tiga bulan dua minggu aku di sini tapi tak pernah aku bercerita tentang Malang. Baiklah, aku akan bercerita. Tapi jangan bayangkan tentang Malang secara rinci. Karena tak akan kau dapati di ceritaku ini. :D

google

Malang. Sejuk. Dingin. Dan sekarang sudah masuk musim hujan.  Aku sudah menunggunya. Menunggu bau tanah yang basah karena hujan. Tiap sore sebelum matahari betul-betul pulang, hujan sudah datang. Membasahi jalan-jalan yang selalu ramai dengan manusia-manusia juga besi-besi bermesin dan beroda itu. Dan aku selalu bisa berlama-lama diam menikmati titik-titik hujan yang rindu menyentuh tanah. Kupikir aku jatuh cinta dengan kota ini.

bukan Malang :p (mirip)

Aku jatuh cinta dengan sejuknya. 23 tahun aku hidup di bawah sinar dari matahari yang kupikir lebih dari satu di kotaku, Palu, membuatku jatuh hati pada kedatangan pertama di sini. Di pagi hari udara dan hawa nya yang lembut akan bertahan sampai tengah hari, dan setelahnya matahari akan sedikit terik lalu pelan-pelan sembunyi ketika jarum panjang jam masih ada di angka 6 dan jarum pendek nya di angka 3. Singkat sekali. Lalu sejuk mendingin akan setia mengantar matahari istirahat. Pulang.

Lalu dengan pohon-pohon gagah di sini. Aku selalu seperti berada di surga. Terlalu melebihkan mungkin. Tapi coba kau bayangkan kawan, udara sejuk dan di depan kedua matamu pohon-pohon besar, dengan cabang-cabang kokohnya juga daun-daun rimbunnya juga sedang menatapmu. Malang punya banyak pohon-pohon besar. Di kampusku, di tepi-tepi jalan, di taman-taman. Ah. Subhanallah.

google

Wilis. Pasar Buku Wilis. :D Aku suka tempat ini. Ketika anggaran buat beli buku sudah terpakai untuk keperluan lain, dan aku ingin punya teman di kamar, Wilis lah yang menjadi penolongku. Hanya jalan kaki lima menit dari kos-an. Dan dengan uang dua belas-lima belas ribu , pulang aku bisa bawa satu novel (bajakan), teman ku  di kamar ketika bosan dengan tumpukan-tumpukan tugas. Jatuh cinta pada sesuatu yang tidak baik. Hihihi.

Kamarku. Kos-anku. Tapi aku memilih menyebutnya rumah. Ketika mama atau papa ku menelpon “ Di mana nak?” maka dengan senang hati aku menjawab “ di rumah” bukan “di-kos”. Rumah sederhana dua lantai enam kamar yang sangat-sangat nyaman. Jarang aku merasa sumpek ingin pulang ke rumah di Palu. Kamarku ada di lantai bawah . Berdua dengan kamar yang penghuninya belum balik dari daerahnya. Kamarku 8 x 9 setengah ubin. Lumayan untuk ukuran kamar kos-kosan. Kamar ku, tempatku merindu papa mama adik nenek. Sahabat-sahabatku. Tempatku bermesra-mesraan dengan buku-buku kuliah, novel-novelku. Tempatku belajar. Tempatku ketika diam memikirkan apa yang sudah aku lalui seharian. Tempatku merenung. Menangis. Menulis. Seperti sekarang ini.  Kupikir aku akan betah, dan suatu hari nanti aku akan sangat rindu dengan kamarku ini.


Aku jatuh cinta dengan sederhana. Sesederhana doa-doa yang kusimpan, ucapkan, nyata-kan di sini, di Malang. Hingga dua tahun ke depan. Untuk semua yang pelan-pelan akan jadi kenangan.

Monday, October 14, 2013

Langit, Kau Tahu Jodohku ?

Bismillahirrahmanirrahim. 



Langit, akhir-akhir ini kenapa banyak buku seperti di atas? Mereka serentak, serempak memanas-manasi pasangan-pasangan 'non-halal' + manusia-manusia jomblo. Termasuk aku. Iya aku. :D Dari cerita mereka, bertemu jodoh lalu nikah itu waw sekali. Ibadahnya jalan terus. Apa-apa berjamaah, berdua. Ihiiyyyy...

Hmmm, Kau tahu siapa jodohku, Langit? Tanyakan pada Tuhan, lalu beritahu aku. Ah, jangan. Biar itu jadi rahasiaNya. 

Nikah? Mudahkah? Susahkah? 
Langit, Kau punya jawabannya?

 Oh iya, tadi pagi waktu aku ke Pasar Minggu, aku melihat sesuatu, Langit. Kau tahu kan di sini banyak orang-orang yang datang menghampiri menengadahkan telapak tangannya, meminta rupiah. Mereka ada di mana-mana. Di sepanjang jalan Pasar Minggu. Padahal badan mereka kuat. Mungkin kepala dan hatinya tidak. 

Tapi tidak dengan bapak-ibu tua di tengah simpang pasar tadi. Sepertinya mereka suami istri. Umur mereka sepantaran. Kau tahu apa yang mereka lakukan, Langit? Mereka bernyanyi. Dengan microfon dan tape sangat tua mereka bergantian menyanyikan lagu-lagu yang sering aku dengar di terminal-terminal. Kebanyakan sendu. Ketika aku lewat, kudapati suaminya, ber-dangdut. Istrinya duduk menjagai tape di samping suaminya. Sesudahnya, gantian istrinya berdangdut. Dan di tengah-tengah shownya, tape mereka sesekali berulah, Langit ! Si Bapak dengan sabarnya memukul-mukul tape tuanya, sementara istrinya trus saja menyanyi, dengan musik yang hilang timbul.  Aku hampir saja menangis melihat mereka. Aku kasihan. Tapi lebih kukasihani diriku sendiri. Di usia senja nya mereka tak lelah berusaha. Sementara aku?? Keluhan tak jarang mematahkan semangatku.

Langit, lebih dari itu, aku kagum pada mereka. Tetap setia menerima satu sama lain. Tetap bersama-sama berusaha, meskipun susah. Apa jadinya, kalau istri lelah mendampingi suami ketika susah datang menghampiri? Apa jadinya suami ketika tak ada dukungan dari istri? Apa jadinya ketika di tengah-tengah, salah satu ingin pergi mencari jalan lain, sedangkan sebelumnya mereka sudah berjanji di hadapanNya, akan selalu melangkah bersama? 
Sampai malam ini, aku percaya bapak-ibu tadi sepasang suami istri. Karena sesuatu yang sampai di kepalaku setelah melihat mereka. 

Tentang jodoh, suami, istri. Aku percaya padaNya, Langit. Aku disuruhNya belajar dulu. Belajar banyak hal. Dan mungkin jodohku juga sedang melakukan hal yang sama kan Langit? 

 


Aku janji, Langit ! :)

Bismillahirrahmanirrahim.

Langit, kau sedang apa di atas sana? 
Kau melihatku bukan? Terima kasih. 

Langit, kau tahu kan aku sekarang tinggal di mana? Aku sedang jauh dari rumahku. Di sini bukan rumahku. Aku sedang bertamu. Bukan. Bukan hanya bertamu. Aku sedang menumpang di rumah orang. Untuk waktu yang mungkin tak sebentar. 

Kau tahu, rumah mereka nyaman, Langit ! Udara nya, pohon-pohon gagahnya, sejuknya.  Mereka pintar merawat rumah mereka ini. Ia indah, terjaga, bersih, nyaman.  Aku suka dengan rumah mereka. Tapi, aku tetap cinta laut, gunung dan kau langitku di rumah ku yang jauh di sana :)

Aku juga suka diam menatapmu dari bawah sini, dari rumah mereka, Langit :)  Biasanya aku bermain-main dengan mereka. Di rumah mereka ini. Mereka baik. Mereka yang kutemui sampai saat ini. Mereka pintar menjamu tamu. Menyamankan. 

Kau tahu, Langit ! Aku bersyukur. Bisa jadi bagian keciiil dari rumah mereka. Aku janji. Selama di sini, aku akan selalu jadi 'anak manis'. Jadi tamu yang baik. Tamu yang tak mengganggu. 

Bantu aku, Langit ! :) 



Dua bulan dua hari ada di bawah langit Malang. :)

Wednesday, October 02, 2013

Langit, Dengarkan Aku...

Bismillahirrahmanirrahim.

Langit, aku ingin bercerita. Tolong sisihkan sedikit waktuMu untuk mendengarnya. 

Aku terlalu sering masuk dalam-dalam ke masa yang pernah kusinggahi, bermain-main di sana, mengingat satu-satu senyum mereka, lalu aku nyaman dan tak mau pergi. Aku bisa berlama-lama di sana, hingga aku lelah lalu tertidur dengan rindu yang semakin meninggi. Tentang mereka, aku selalu begini. 

Apalagi sekarang, ketika aku hanya bisa melihat Kau, Langit yang sama yang mereka lihat di sana. Aku tak bisa mencicipi rasa yang mereka punya. Tak bisa ada di tengah-tengah mereka. Mereka yang diberi keturunan, pekerjaan, bahkan juga mereka yang kehilangan orang tercintanya. Untuk yang terakhir, aku betul-betul ingin ada di sana :(

Iya, tak ada beda nya semuanya meski aku tak di sana. Tapi Langit, Kau tahu kan apa yang kurasakan? 



Terima kasih sudah mendengarku, Langit.
 Mungkin lama-lama aku akan terbiasa. 

Friday, September 27, 2013

Mataku. Aku Padamu.

Something wrong with you, my eyes. Akhir-akhir ini, kalian cepat sekali ngantuk. Hampir tiap kuliah, pasti kalian mengundang kantuk. Mulutku tak menguap tapi mataku ini ingin sekali ku tutup. Kalau sudah begini, aku pasti melawan kalian sekuat mungkin. Dan akhirnya, selesai kuliah, ‘rumah’ kalian jadi korbannya. Kepalaku sakit.

Membaca. Aku sangat-sangat suka. Tapi lagi-lagi kalian bermasalah. Belum lima lembar bacaanku, aku mengantuk. Entah itu buku kuliah atau bukan. Aku benci. Padahal Aku serius ingin belajar. Sangat serius.

Dan juga kalian sering menangis. Yang satu ini kadang merisaukan. Pernah di tempat ramai , bisa-bisanya kalian ingin mengeluarkan bulir-bulirnya. Hanya karena mengingat sesuatu. Aduh. Aku bisa apa? Untuk masalah yang satu ini, aku angkat tangan. Eh, angkat tisu.

Mataku. Bisakah kau tak mengantuk lagi ketika dosen-dosen hebat itu memberi ilmunya? Atau ketika aku mencuri kata-kata di buku? Dan jangan lagi tiba-tiba sok mellow di tempat-tempat yang seharusnya kau bahagia!

Mataku, tolong bantu aku sampai waktu kita seharusnya :) !  Kalian yang menunjukkan ku banyak hal. Sampai hari ini. Dan (semoga) masih banyak lagi.



Aku menyayangi kalian !
Malang, Jumat, 27 September 2013. 
Aku, mataku, dan buku yang harus ku-akrab-i.

Wednesday, September 25, 2013

Di-Jodoh-Kan?

“ Dia itu dijodohkan orang tuanya! Ketemu istrinya itu pas mau tunangan. Jadi, seminggu setelah ‘dipertemukan’, mereka tunangan. Dan nikahnya itu setahun setelah tunangan. Nunggu istrinya tamat SMA dulu ! ”. 

“ Sebenarnya dia punya pacar, tapi orang tua nya gak suka sama pacarnya. Maka gak direstui lah hubungan mereka. Jangan tanya kenapa, aku juga gak tau. Tapi ya, katanya itu, jadi anak kita nurut apa kata orang tua aja, insha Allah yang terbaik, Insha Allah berkah” 

Aku hanya bisa diam. Mendengar cerita singkat temanku sukses buatku terdiam dan berpikir. Ya Alloh, hidup itu begini yah? Harus memilih. Antara keinginan kita, juga keharusan. Jujur aku salut sama si Dia di atas. Memilih untuk membahagiakan yang seharusnya dia bahagiakan. Bukannya tidak memperjuangkan cintanya, tapi aku yakin, cinta sesungguhnya lah yang dia perjuangkan.


Sedang mengingat percakapan di dalam angkot siang tadi. Kami tak lagi bergosip. 
Hanya sedikit berdiskusi tentang kampus dan jodoh :D

Monday, September 23, 2013

(Mungkin) Masih Sama

Aku masih sama dengan harap yang juga tetap setia pada tempatnya.  Tanpanya, bagaimana aku bisa membuka kenangan kita?

Apapun itu, Aku suka caraku dulu menyukainya.... 


from deviantart(dot)com

Hanya ingin menulis
Malang, Senin, Lewat tengah malam...

Thursday, September 12, 2013

Entah Ini Kenapa!


Jika malam diciptakan Sang Tuan untuk lelap. Maka kali ini tidak untukku.
Aku bisa punya malam yang tak aku maui.
Ketika akan banyak yang menarik-narik ingatanku ke sana sini. 
Kadang mereka membentuk satu garis dari tarikan yang menyambung itu.
Menyata mimpiku. Tapi bisa jadi mereka juga menguraikannya lagi. 
Putus. 
Dan aku sedih sendiri.
Seperti malam ini. Aku agak benci. 

taken from google

Aku ingin mimpi datang menjengukku, menarikku. Lalu istirahat hingga esok pagi.

Malang, 12 September 2013, 00:10 tengah malam, dan tepat sebulan di sini.

Saturday, August 31, 2013

Subuh dan Rindu

" Hidup yang hanya sekali, terlalu singkat untuk selamanya diratapi. Maka rayakan apa saja hari ini: Dekatkan dirimu dengan siapa saja yang bisa membuatmu menjadi manusia yang berbahagia. Mereka yang bisa menepuk pundakmu saat tertawa, mereka yang bisa menghiburmu di saat-saat sedih, mereka yang bisa membersamaimu di antara keduanya: Mereka yang benar-benar peduli padamu dan bukan pada diri mereka sendiri. Merekalah orang-orang yang harus kita jaga dalam sisa hidup kita selanjutnya. Sebab kita sudah tahu, semua orang yang kita temui dalam hidup, selain orang-orang ini, hanya sejenak numpang lewat! "

Bismillahirrahmanirrahim...

Tujuh baris di atas ku kutip dari postingan terbaru @fahdisme. Baris-baris yang mengingatkanku nama-nama yang tak pernah pergi dari hati. Nama-nama yang tak sedarah, tapi bangga kusebut saudara. Mereka yang tercinta setelah keluarga.

Mereka yang membuat seorang aku menjadi manusia yang bahagia. Mereka yang dengan hati nya selalu mendengar, men-support, berbagi, mendoakan dan dengan sabarnya menghadapi semua egoku. Mereka yang bisa selalu dengan mudah membuatku menangis karena rindu. Mereka yang kini jauh di sana, dan sedang menuju jalan ke masa depannya masing-masing. Mereka yang jadi inspirasi dan salah satu alasan mengapa aku ingin jauh melangkah mengejar mimpiku. Mereka yang peduli padaku, pada persahabatan kami, persaudaraan kami.

Mereka yang ingin aku dengar selalu cerita hidupnya. Mereka yang ketika usia makin dewasa, tetap aku ingin hidup bersama, berbagi rasa, saling mengingatkan, membahagiakan. 

Subuh ini, di dalam sunyi, aku merindu mereka. Aku mengingat bagaimana waktu membahagiakan kami. Bagaimana kami sering berjanji untuk selalu menjadi saudara. Bagaimana kami pernah menangis ketika rindu karena terpisah tiga bulan saja. Mereka yang bukan hanya menepuk pundak tapi memelukku ketika sedih, Aku yang selalu cengeng di depan mereka, padahal tak bisa menangis di depan mama. 

Dalam doa, selalu kuminta Allah SWT menjaga kita, saudaraku. Membahagiakan hidup kita masing-masing. Pun kelak atas IjinNya , kita akan menjadi orang tua, dari anak-anak shaleh shaleha kita. Dan akan kuceritakan pada mereka tentang bahagiaku hari ini dan kemarin, tentang kalian, tentang persaudaraan kita. Tentang kita yang tak hanya singgah-menyinggahi lalu pergi. Tentang kita yang mengerti arti persahabatan dari hati. 

Aku percaya kita akan lebih bahagia dari hari ini. Akan ada hari untuk kita mengulang semua, menengok ke belakang sejenak, mengingat semua lalu tak pernah berhenti bersyukur. Nanti. Pun kita akan saling membanggakan. 

Semoga hati ku, hati mu , hati nya , tetap menyimpan sudut manis untuk kita tinggali bersama, untuk tidak saling melupa, untuk tetap saling mendoakan, untuk saling membahagiakan.

Karena Allah, aku menyayangi kalian. 



Untuk sahabat, saudara-saudaraku
Tak perlu kusebut di sini, karena aku yakin akan hati yang bisa mengerti tulisan ini :)

Malang, 31 agustus 2013
Sebelum Masjid 'berbunyi'...