Wednesday, January 15, 2014

Mbolang ke Kebun Raya Purwodadi

Bismillah.

Dalam postingan-postinganku, akan kalian temui di mana aku memakai ‘aku’ seperti saat ini, juga ‘saya’ dalam postingan sebelum ini. Tidak konsisten. Iya memang. Aku mengikuti suasana hatiku. :D

Liburan semester satu ku kemaren, aku memutuskan untuk tidak pulang ke Palu. Padahal liburnya dua minggu lebih. Hiks, sabar yuni. Pertimbangan uang tiket pesawat Surabaya-Palu yang meluuooonjak karena berpapasan dengan libur panjang akhir tahun. Juga karena baru lima bulan aku tinggalkan Palu, belum terlalu lama. Belum dramatis untuk pulang melepas rindu dengan ayah bunda *tsaaaahh. Mending kutabung uangku juga rinduku.

Dan untungnya dari dua puluh mahasiswa di kelasku, ada dua mahasiswi memilih hal yang sama denganku. Firda – anak Lombok, Ain- Anak Padang, dan belakangan aku tahu kalau Wiren- Anak Lombok (juga) stay di Malang tak pulang kampuang.

Firda dan aku  punya rencana untuk Mbolang selama masa penantian masuk kuliah lagi. Untuk hal jalan-jalan kita hampir sama, tapi sepertinya kadar ‘hobi jalan’ ku sedikit di atasnya.  Ain diajak, dan dia mau. Yes! Kita pergi bertiga ! Tujuan kami adalah Kebun Raya Purwodadi.

dok.pribadi

Kebun raya Purwodadi. Lokasinya di Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia. Kebun penelitian besar yang juga jadi tempat wisata ini luasnya kurang lebih 85 hektar dan punya 10.000 jenis pohon dan tumbuhan.  Kenapa di sini? Sebenarnya kami mau ke pantai, tapi Pantai-pantai di Malang, Jauhhh ciinn. Transportasi umum kesana juga susah. Mau ke Jogja, Bandung, Bogor, Jakarta, Si Firda lagi nabung demi sesuatu. Gak seru kan ya sendirian dan Gak mungkin juga saya pergi sendiri. Suami istri nun jauh di Palu sana tak akan memberikan ijin anaknya alone mbolang too far.  Ya sudah. Pilihan jatuh ke Kebun Raya Purwodadi ini. Setidaknya di luar Malang lah ya. Gimana mo jadi traveler iniihh??

Waktu itu Kamis, Kita janjian  di jalan depan kos-anku, jam tujuh dan akhirnya ngaret satu jam. Jadi jalurnya adalah, kita ke terminal Arjosari dulu (naek angkot). Dari terminal naek bus ke Surabaya, karena Kebun Raya ini lokasinya di jalan poros Malang-Surabaya.

Baru sekali itu aku naek angkot dari kos-an ke terminal Arjosari, jauuuh ciiin :D. Sepuluh-lima belas menitan sepertinya. Sampai di Arjosari, kami disambut kernet-kernet dan para lelaki-lelaki yang ‘menarik’ penumpang dengan teriakan-teriakannya yang tak mau kalah satu sama lain.

“ Pak, ke Kebun Raya Purwodadi berapa?” tanyaku ke seorang yang paling dekat dengan tempatku. Setelah kami bertiga hanya senyum-senyum bingung.

“ Dua puluh lima ribu mbak ” jawabnya langsung.
            Aaaapeee Lu Kateeee Paaaaakk??  Sambil pake mata melotot. Ke Surabaya aja gak nyampe segitu. Aku protes sewoot, dalam hati pasti! Hihihii.  Kalo aku ngomong di luar hati, kayanya langsung dinaikkin ke atas atap bus deh.

“ Kemahalan Pak! Masa’ segitu?” Kami bertiga protes.
            Bapak itu balik nanya ke temannya.  “ Lima belas ribu deh mbak!”
            Kami setuju. Naek ke bus. Dan bismillah. Duduk di bus, foto-foto dulu bertiga. Ganti DP BB. Teman di Bengkulu nanya kemana. Aku bilang ke Jogja. Dia percaya. Bwahahaha.

Nah, ada satu kejadian lucu di bus. Sepuluh menit-an jalan, ada mas-mas dalam bus bagi-bagiin stiker Arema. Satu. Dua. Dibagiin Cuma-Cuma. Aku yang duduk berdua sama Firda seneng. Lumayan lah. Gratisan. Buat kenang-kenangan. Eh pas udah mo nyimpan tu stiker ke dompet si Mas baik tadi itu balik dari belakang bus (kami duduk di baris depan) sambil cuap-cuap ada ‘ikhlas-ikhlasnya’ gitu plus bawa gelas air mineral kosong. Tuuinngg-tuuuinggg. Ternyata kagak gratisss ma meeeeenn !! hahahahaa. Aku bayar aja seribu. Tau gitu tadi mintanya empat. Kan bayarnya ikhlas-ly.

Akhirnya gak nyampe setengah jam, bus udah dekat Kebun Raya. Bayangin ya, aku sempat ketiduran.

“ Mbak-mbak, bangun. Kebun Raya, Kebun Raya” Kata kernetnya.
            Aku bangun dengan kesadaran yang 100 % tapi kondisi penyesuaian yang masih 80 %. Udah bangun cepat-cepat, berdiri dari kursi jalan sempoyongan ke pintu belakang bus. Eeeh, masih ada tiga menit-an berdiri kaya kernet , baru nyampe bus nya di depan gerbang Kebun Raya Purwodadi. Kampr*t.

“ Thank you, mas ! “ Aku turun cepat dan yeaah Gerbang besar di depan mata !

            Pas masuk ke dalam , beli karcis dulu. Only enam ribu rupiah per orang dewasa. Waahh hijau di mana-mana. Kami memilih jalan kaki. Daripada naik kereta-keretaan. Dan belakangan kami tahu, kalau ada penyewaan sepeda. Hadewh.


Kembalilah ke alam, dan akan kau dapati nyaman.  Oh iya, sebelum ke sini, aku sempat bertanya tentang kebun raya ini via bbm ke temanku yang asli Pasuruan. Katanya, “ Nanti kalo udah nyampe di sana, banyak-banyak istighfar ya!”
            “ Lah, memangnya ada apa, mas?” tanyaku bingung.

“ Banyak yang pacaran. Duduk dekat2an. Hahahahaha” jawabnya.
            Ingin ku balas, ya iyalah kalo jauh-jauhan itu namanya lagi ujian finalnya Pak Ali Sauqah.

Dan yah, memang iya! Sepanjang jalan gak pernah gak kami dapati pasangan-pasangan yang berdua-duaan di gazebo2 kecil, tapi untungnya masih dalam ambang batas normal dan wajar tapi bikin risih juga sih. #jomblo #jomblo
            Terlalu banyak aku bercerita, mari kau lihatlah foto-foto Kebun Raya ini beserta pose kami :P
 




Sejauh mata memandang yang akan kalian lihat adalah pohon-pohon besar. Ada tiga pilihan untuk mengelilingi kebun raya ini, naik sepeda yang bisa kalian sewa, naik mobil sendiri dan seperti kami bertiga, jalan pakai kaki sendiri :D.

Hari itu panas terik, tapi tetap sejuuuukkk. Kami berjalan riang kesana kemari. Kiri kanan pepohonan dan beberapa pasangan. Hihihi. Padahal banyak nyamuk loh ya, kok mereka tahan duduk lama-lama :p Iya, di beberapa titik yang kami singgahi untuk foto-foto, nyamuk nya buanyak. eiits, waktu itu ada pasangan yang lagi foto pre-wedding juga. Ada keluarga kecil dengan dua anak-anaknya yang lucu foto-foto  dengan background pohon-pohon guedee.




uni - ain



Aku suka  tempat ini. Karena kebun raya di pinggir jalan raya seperti ini tak ada di kota asalku. Aku suka pohon-pohon besar dan udara sejuk.
            Ternyata capek juga jalan kaki. Besok-besok kalo kesini mending naik sepeda. Puas foto-foto, keliling-keliling, kami akhirnya pulang. Kami bertiga berpikir untuk nyetop bus lagi. Ets tapi pas bus mini lewat, dan bapak di dalamnya teriak-teriak, “Malang Malaaang Malaaang” dan kami memilih itu.
            “ Malang, berapa pak? “ Tanyaku.
            “Maunya berapa?” tanyanya balik.
            “ Lima ribu !” Jawabku cepat.
            “Yo wess, ayooo! Kata si bapak kernet.
            Mobilnya masih kosong, nyaman pula. Kami duduk di jok paling belakang.
            Bayangkan , tadi pas pergi kami bayar tiga kali lipatnya. Padahal lima ribu saja tarif normal Malang-Kebun Raya Purwodadi.  Tarif ini aku tahu pas lagi beli minum di samping loket masuk Kebun Raya. Yaaah, kami “ditipu-tipu” , muka kami yang masih polos dan orang baru cepat ketahuan di terminal pagi tadi.
           
 Well, pengalaman pertama begitu berharga. Sampai bertemu kembali Kebun Raya Purwodadi. :) 



Sunday, January 05, 2014

Semester Satu Ku.

Alhamdulillah.

Semester satu sudah selesai  kurang lebih dari seminggu yang lalu. Nilai-nilai juga sudah keluar. KRS pun sudah selesai diproses. (hampir) Lima bulan yang cepat berlalu.

Well saya masih ingat pas jadi maba. Awaaal banget.  Kuliah pra-pasca saya di kelas sebelumnya. Ya, sebelumnya. Pelan-pelan mengenal nama-nama baru. Lingkungan baru. Pra-pasca, yang dijadwalkan seminggu seperti kelas adaptasi, refresh mata kuliah dasar, flashback ke materi S1, waktu itu berjalan sangat baik. Kelas kami rame, nyaman juga. Saya sangat 
bersyukur bisa sekelas dengan orang-orang yang menyenangkan.  Satu minggu tapi saya 
merasa sudah kenal lama dengan beberapa dari mereka.

Dan minggu kedua kuliah perdana dimulai.  Karena jadwal kuliah kelas ini Selasa, Rabu, dan Jumat., maka Senin pertama itu saya nyantai di kos-an. Betapa senin jadi sangat menyenangkan selama hidup saya. Free, ciiin. Besoknya, sebelum ke kampus, Diska, teman sekelas saya mengirim bbm, yang bilang kalau saya dipindahkan ke kelas lain!!!

Whaaatttt ?!! Apa salah saya coba? Nama saya gak lagi ada di daftar mahasiswa kelas C, karena telah bertransmigrasi ke kelas D tanpa ada pemberitahuan dari pihak pengelola Mata Kuliah. Buru-buru saya ke kampus, mencari kejelasan. Sampai di kampus ketemu Diska, dan she asked me to have clarification from administration staff. Dan yaah selamat yuni ! Kamu memang beneran pindah !!! Saya sedih seketika,

Nama saya tak lagi di kelas C. Dan ternyata saya tak sendiri. Ada empat wanita lainnya yang juga senasib sama saya. Lima nama dari abjad terbawah ditransfer ke kelas D yang memang penghuninya sedikit. Galaaaau Ma meeeeennn !! Sudah nyaman di kelas C, ehh dimusnahkan dari situ. Parahnya lagi jadwal kelas D itu, Senin, Selasa sama Rabu. It means ,senin,  Saya gak masuk kelas seharian full. Dan hari itu selasa, kelas nya kelas baru saya sudah selesai. FIX dua hari saya terhitung bolos ! Awal kuliah yang melemaskan!

Saya sendirian keliling nyari anak kelas D yang mungkin saya kenal dan kenal saya. Waktu itu ketemu Ain ( dan kami masing-masing belum kenal )  J Dan untungnya, baru satu dosen yang masuk ke kelas mereka, eh kelas kitaa dink. Senior yang waktu itu sama-sama Ain bilang kalo kita bisa bermohon ke ketua jurusan untuk tetap dan gak pindah dari kelas lama. Temannya dulu ada yang nasibnya sama kaya saya, dan teteup gak pindah. Sempat kepikiran gitu, mo menghadap Ibu ketua jurusan, tapi alasannya gak mau pindah apa coba ??? Masa iya, “Bu, aku terlanjur cinta sama kelas itu, gak bisa belajar kalo di kelas lain!” Jiaaaahh,  lu anak TK ya? Gak bisa belajar kalo gak ada mama X_X. Bismillah, ini sudah takdir saya. Mama sama teman-teman saya bilangnya “ Justru bagus, Yun, teman mu bakalan nambah kan?” Well. That is totally true.

Hidup baru saya dimulai. Dengan teman-teman sekelas yang baru. Dengan dua orang lelaki bule dari Uzbekistan. Semangat saya naik turun, tidak seirama dengan tugas yang naik terussss. Beradaptasi dengan ritme kuliah yang beda jauh dengan S1 saya dulu. Begadang sampe pagi gara-gara dikejar deadline tugas. Pernah saya maju presentasi tanpa persiapan yang mantap, dan kena ‘doorr’ dari dosennya. Doing my mid-test without mastering the lesson.  Saya merasa sangat-sangat bodoh. Dan mata kuliah yang dua ini lah nilai saya yang gak A, tapi memuaskan, karena memang sesuai dengan usaha saya yang gak maksimal. Wadawh, semester satu saya belum mulus. Untungnya kelas baru ini juga sangat-sangat nyaman.  Gak ada hari tanpa ketawa.  Alhamdulillah.

Semester dua di depan mata. Yang ini harus lebih rajin baca, rajin kerjain tugas, rajin gak nunda-nunda! Semester satu ditutup sama gathering kelas D, nonton Van Der Wijck bareng Nyssa, Dyah. Ke Kebun Raya Purwodadi sama Ain dan Firda. Dan nilai-nilai mata kuliah yang di atas ekspektasi saya. Thanks God.

Photo by Novika. I am a Mango ;)

Here We Are 

Bersama Pak Suharmanto

Terima Kasih, Semester Satu :)

Tuesday, December 03, 2013

Ini Yang Terakhir


Dan Aku pun memilih untuk pergi menjemput cerita-cerita baru daripada terus-terusan mengingat bagaimana kita pernah sama-sama menulis cerita dan menunggu janjimu untuk kembali. Aku lebih menyayangi waktuku, dibandingkan dirimu. Serius. Ini yang terakhir kau bisa membaca cerita di mataku juga di sini. Karena aku akan betul-betul  pergi. Menghapus janji. 

Tak akan kau dapati bibir yang senyum nya tulus untukmu, yang berucap doa di tengadah tangan usai sujudnya. Juga tak akan ada yang mata yang menyimpan matamu di dalamnya, menunggumu hadir di depannya, menangisi apa yang sebetulnya tak layak dia tangisi.  Tak ada hati yang terus meminta hanya ditempati nama mu. Iya, tak lagi akan ada.

Jika kau begitu pintar melupakan semua, aku pun tak bodoh untuk belajar kalau tulusku, terlalu sia-sia untuk kubagi hanya denganmu.