Friday, August 10, 2012

Atau mungkin Untuk kau , Untuk aku , Bukan kita.

Siang ini mungkin sama seperti siang kemarin, 2 hari lalu, seminggu, sebulan, ah..

Masih sama. Langit di atas sana tak berganti warna, pohon-pohon itu masih setia bertatap-tatapan, anak-anak kecil yang berlari-larian di lorong itu masih berpikir bahwa bermain dan kabur dari suruhan tidur mama nya siang terik seperti ini adalah kemenangan yang sempurna. Ya. Sama.

Pun begitu denganku. Sama dan setia menari-narikan cerita yang sama berulang-ulang. Cerita yang tak kutemui ujungnya. Sampai kini.

Terpaksa ku putar memori itu, kelabu.  Mencari-cari slide yang bisa dan tak boleh teringat. Ah, aku benci rasa tak nyaman seperti ini. Karena tangis akan begitu mudah menghampiri.

Kau tahu, sampai sekarang aku tak mengerti. Tentangmu, tentang hati, tentang diri. Padahal dulu, aku yang terbaik dalam memahami, itu kata mu. “kadang kau seperti mama, tak perlu kata, kau tau apa yang sedang kurasakan”. Lalu aku akan memperlihatkan deretan gigi kecilku, “ traktir aku es krim, ya”

Aku yang tak dihadiahiNya saudara dari rahim yang sama, tapi aku tahu rasanya memainkan peran sebagai adik yang merengek minta ini itu, bertanya semua hal, tertawa lalu tiba-tiba menangis di depanmu. Juga kadang aku lah kakak yang akan cerewet menceramahimu kalau aku tak suka melihatmu diremehkan, tapi kau hanya akan tersenyum, mukaku bertambah sekian banyak jeleknya kalau lagi marah, katamu. PadaNya , aku selalu bersyukur memilikimu.

Memainkan warna-warna, mencipta kisah, memanggil marah, lalu mengusirnya seketika, mendebat segalanya tapi hanya berujung tawa. Kita.  Hidupku nyaris sempurna. Kau selalu ada. Dengan nyaman yang selalu kau bawa.

Mereka kira kita sepasang merpati, hahaaa. Kita selalu menertawai pikiran mereka. Tak pakai rasa, kau dan aku mengalir begitu saja. Mungkin mereka tak percaya, ya sudahlah, hati kita yang tahu semua. Kita terus berjalan, saling menjaga dalam ramai tanya.

Dan rupanya aku terlupa kalau segala sesuatu selalu ber-masa, ber-waktu. Tak teringat kalau kehilangan juga bisa singgah menyapaku. Menghapus bahagia, membunuh nyaman dalam singkat jeda. Memaksaku untuk lupa bagaimana meminjam raga mu untuk melengkapi ceritaku.

Ada yang menusuk di hati, ketika aku tersadar bahwa kau tak lagi di sini, menemani detikku, jarakku, menjadi lawan bicaraku tentang semua yang orang-orang tak pernah mengerti. Kau pergi ketika semuanya masih baik-baik saja.

Kita salah, kita keliru. Kita mengaburkan apa yang semestinya, semua ada batasnya. Allah SWT dan Rasul kita sudah mengatur segalanya. Itu alasanmu. Bahwa seharusnya tak ada hubungan apa-apa antara dua manusia, kita berbeda.

“Kelak, ketika kau memang untukku, dan aku juga begitu. Kita akan melanjutkan skenarioNya. Anggap ini jeda untuk janjiNya yang terlalu indah. Doakan saja. Aku juga sama.”

Aku tak tahu apa. Aku tak tahu. Mungkin aku hanya belum siap. Meski aku mengerti.

1 tahun setelah kau pergi, kau tetap di sana, tak menoleh, tak kembali. Seperti kata-katamu. Semestinya aku bahagia, kau menjadi lebih baik segalanya. Kau mendapat hidayahNya.

from here

Aku tahu, ini cara mu menjaga ku, kau membuatku juga menjagamu. Kita tetap saling menjaga, karena Allah SWT, hingga DIA lah yang akan membuat cerita baru untuk kita. Lebih indah dari cerita lalu.  Atau mungkin untuk kau , untuk aku , bukan kita.

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia karena kamu menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah,,,,” 
(Ali Imran: 110)

8 comments:

  1. untuk aku..bukan untuk kita...kata yang sarat makna...i like it :)

    ReplyDelete
  2. Aku tahu, ini cara mu menjaga ku, kau membuatku juga menjagamu. Kita tetap saling menjaga, karena Allah SWT, hingga DIA lah yang akan membuat cerita baru untuk kita. Lebih indah dari cerita lalu.
    Stay strong ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. ^^ thanks for visitin' my blog :)
      yup, must b strong, selalu !

      Delete
  3. subhanAllah. sling menjga karena Allah...

    ReplyDelete
  4. wahhh keren nich artikelnya!

    ReplyDelete
  5. bukan diriku, dirimu atau dirinya lah ya..hehe

    ReplyDelete